Defenshit of Cycle



Saya kira, semakin kita dewasa semakin sulit bagi kita untuk jatuh cinta. Kecemasan akan masa depan seperti besok akan makan apa, besok akan jadi seperti apa, membuat kita tenggelam dalam satu kesibukan ke kesibukan yang lain. Membuat diri dengan dipenuhi layers. Hingga akhirnya kita lupa bagaimana cara untuk (barangkali) menikmati hidup. Kita menjadi tidak percaya dengan mimpi, tidak peduli dengan cita-cita, dan lagu Surat Cinta Untuk Starla terdengar hanya omong kosong.

Lantas tiba-tiba Tuhan dengan jenakanya membuat kita jatuh cinta. Saya pikir kita sering ada disituasi seperti ini: menyalahkan keadaan, membenci segala sesuatu, menjaga jarak pada banyak orang sampai menjadi acuh pada banyak hal. Hingga suatu hari, semesta berkonspirasi dengan membuatmu bertemu dengan seseorang yang tak pernah kamu pikirkan sebelumnya. Orang itu bisa saja seseorang yang kamu lihat ditempat kamu kuliah. Seseorang yang kamu temui di salah satu sudut toko buku. Seseorang yang sedang mengatri di restoran makan cepat saji yang sama denganmu. Atau seseorang pramusaji di gerai mall yang tak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Tapi bagi saya waktu itu, dia adalah seseorang yang pernah sepintas saya lihat 2,5 tahun yang lalu. Dan malam itu Tuhan membuat saya jatuh cinta dengan edannya.

Kalian pasti pernah merasakan jatuh cinta secara edan bukan ? merasa hidupmu yang sudah kepalang tai itu menjadi bermakna lagi, merasakan panas dingin, dan lagu Dia menjadi sering kamu repeat. Kamu mencoba untuk lebih berani mendekatinya, kamu tersenyum sendiri saat notifikasi chat darinya masuk, dan mejadi gelisah saat pesanmu cuma diread. Kamu kembali percaya dengan mimpi, kamu jadi peduli dengan cita-cita dan kamu jadi lebih giat dalam bekerja. Kamu membuat jadwal untuk pertemuan pertama. Logikamu mungkin berkata kalau pertemuan ini tidak akan berakhir pada sebuah hubungan yang menggembirakan, tapi perasaanmu jauh lebih keras kepala, ia menuntunmu untuk lebih baik berusaha dahulu apapun hasilnya nanti. Logikamu mengingatkan kalau mungkin nanti kamu akan menyesali pertemuan itu. Namun, kamu sudah menjadi orang yang bebal, kamu merayakan pertemuan itu dengan tertawa lebih lepas.

Kamu pulang dengan senyum lebar, tidurmu terganggu karena otakmu masih berusaha mengingat detail senyumannya dan bepikir kalau ini adalah pelunasan terhadap hidup getir yang sudah kamu lalui. Tapi ternyata itu bencana, pemikiran seperti itu membuatmu lebih berharap. Tapi tanpa kamu perkirakan sebelumnya, “aku masih mencitai orang lain” kata perempuan itu tiba-tiba. Seperti para pecundang kebanyakan, kamu menyerah memperjuangkan perasaanmu, kamu kembali menjaga jarak dengan perempuan itu, menghapus setiap pesannya, melangkah pergi dengan sedikit harga diri yang tersisa dan menganggap dia tak pernah ada. kamu menancapkan mantra “aku tidak akan jatuh ke momen yang lain dalam gravitasinya” di batok kepalamu.

Kita tahu, ini bukan salahnya. Tapi di otak saya ini jadi lebih rumit. Sebagian dari saya memaklumi perempuan itu, sebagian lagi kebalikannya. “kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta” kata sebagaian dari saya. “tapi, kita juga bisa memilih untuk tidak jatuh cinta dengan orang yang belum pindah” kata diri saya yang lain. Dan bagi saya malam itu, seseorang yang pernah sepintas saya lihat 2,5 tahun yang lalu dan yang membuat saya jatuh cinta dengan edannya adalah seseorang yang sama yang belum pindah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Another Love Story

Surat Terbuka Untuk Perempuan Yang Sedang Mengejar Masa Depan