Surat Terbuka Untuk Perempuan Yang Sedang Mengejar Masa Depan
Halo.
Selamat Siang, nona yang sedang berada dalam perjalanan menjemput masa depan.
Mungkin saat kamu membaca ini, kamu sedang duduk di deretan bangku kuliah yang makin lama makin terisi. Di tengah waktu pergantian mata kuliah, orang berlalu-lalang, sementara kau enggan untuk bergerak. Mungkin kini kamu sedang mengenang masa lalu, memunculkan kembali hal-hal yang telah terjadi. sejenak kamu merasa malu, lantas tersenyum sendiri mengingatnya. Kita tahu, orang datang dan pergi.
Tahukah kenapa aku menulis ini ? tentu saja kamu tak tahu. Mungkin, barangkali tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan atau perlu dijelaskan. Pada perjumpaan kita yang pertama dan penuh kecanggungan itu, aku canggung, entah dirimu. Banyak kata yang tertahan dan yang tak sempat diucapkan. Kamu pernah merasakan gugup yang membuat waktu seakan berhenti dan otak seakan tak berfungsi ? aku pernah, waktu itu saat denganmu. Entah dirimu. Lantas jatuh hati. Aku jatuh hati. Entah dirimu. Aku tidak tahu, dan itu urusanmu.
Tapi ku harap nanti kita akan berjumpa lagi, dan kita bisa benar-benar bicara dengan lebih lepas, lebih bebas, dan tanpa beban. Ku harap kita bisa bicara lebih panjang tentang hidup kita belakangan, tentang gelang merah muda di tangan kirimu, tentang apa yang kita takuti di masa depan, tentang semester akhir yang baru kamu mulai.
Sampai pada paragraf ini, mungkin kamu sedang ngantuk-ngantuknya, dan berharap tulisan ini segera berakhir.
Saat kita bertemu nanti, aku masih berharap ada ruang bagi kita untuk benar-benar bicara tanpa jadi kikuk dan malu. Ku kira kita bisa lebih banyak berbagi lebih banyak tentang hidup kita, ketimbang sekedar menatap handphone masing-masing.
Kita bisa bicara sambil makan, tidak hanya minum seperti kemarin. Aku akan mencoba memakan lebih banyak, karena kamu tahu, saat bersamamu perutku bergejolak, seperti ada yang hendak keluar tapi tidak ada. Mungkin cuma karena roti bakar dengan eskrim diatasnya bukan makanan yang cocok untukku. Aku berharap kita bisa menemukan tempat yang lebih enak, susu coklat yang tak membuatku mual, atau eskrim vanilla yang tak terlalu manis. Karna manis sudah ada disenyummu. eeeaaaaaaa, gombalan om-om.
Pada pertemuan kita nanti, aku akan belajar hal-hal baru darimu, bahasa yang kamu pelajari, cerita-cerita lucu tentang customermu, atau tentang caramu untuk berusaha jadi kaka yang baik. Aku ingin kita bisa menghabiskan waktu sebagai momen berharga ketimbang membuangnya sebagai ingatan buruk. Aku berharap bisa mendengar tiga hal yang membuatmu tertarik. Kita bisa berdebat buku apa yang paling bagus, dan sejak kapan kamu mulai suka drama korea. Dan sebagainya. Dan sebagainya.
Tapi tidak hari ini. Nanti.
Setelah tulisan ini usai, ku ramal senyuman annoying dan tawa iritmu akan muncul. selamat kembali kuliah.
Selamat Siang, nona yang sedang berada dalam perjalanan menjemput masa depan.
Mungkin saat kamu membaca ini, kamu sedang duduk di deretan bangku kuliah yang makin lama makin terisi. Di tengah waktu pergantian mata kuliah, orang berlalu-lalang, sementara kau enggan untuk bergerak. Mungkin kini kamu sedang mengenang masa lalu, memunculkan kembali hal-hal yang telah terjadi. sejenak kamu merasa malu, lantas tersenyum sendiri mengingatnya. Kita tahu, orang datang dan pergi.
Tahukah kenapa aku menulis ini ? tentu saja kamu tak tahu. Mungkin, barangkali tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan atau perlu dijelaskan. Pada perjumpaan kita yang pertama dan penuh kecanggungan itu, aku canggung, entah dirimu. Banyak kata yang tertahan dan yang tak sempat diucapkan. Kamu pernah merasakan gugup yang membuat waktu seakan berhenti dan otak seakan tak berfungsi ? aku pernah, waktu itu saat denganmu. Entah dirimu. Lantas jatuh hati. Aku jatuh hati. Entah dirimu. Aku tidak tahu, dan itu urusanmu.
Tapi ku harap nanti kita akan berjumpa lagi, dan kita bisa benar-benar bicara dengan lebih lepas, lebih bebas, dan tanpa beban. Ku harap kita bisa bicara lebih panjang tentang hidup kita belakangan, tentang gelang merah muda di tangan kirimu, tentang apa yang kita takuti di masa depan, tentang semester akhir yang baru kamu mulai.
Sampai pada paragraf ini, mungkin kamu sedang ngantuk-ngantuknya, dan berharap tulisan ini segera berakhir.
Saat kita bertemu nanti, aku masih berharap ada ruang bagi kita untuk benar-benar bicara tanpa jadi kikuk dan malu. Ku kira kita bisa lebih banyak berbagi lebih banyak tentang hidup kita, ketimbang sekedar menatap handphone masing-masing.
Kita bisa bicara sambil makan, tidak hanya minum seperti kemarin. Aku akan mencoba memakan lebih banyak, karena kamu tahu, saat bersamamu perutku bergejolak, seperti ada yang hendak keluar tapi tidak ada. Mungkin cuma karena roti bakar dengan eskrim diatasnya bukan makanan yang cocok untukku. Aku berharap kita bisa menemukan tempat yang lebih enak, susu coklat yang tak membuatku mual, atau eskrim vanilla yang tak terlalu manis. Karna manis sudah ada disenyummu. eeeaaaaaaa, gombalan om-om.
Pada pertemuan kita nanti, aku akan belajar hal-hal baru darimu, bahasa yang kamu pelajari, cerita-cerita lucu tentang customermu, atau tentang caramu untuk berusaha jadi kaka yang baik. Aku ingin kita bisa menghabiskan waktu sebagai momen berharga ketimbang membuangnya sebagai ingatan buruk. Aku berharap bisa mendengar tiga hal yang membuatmu tertarik. Kita bisa berdebat buku apa yang paling bagus, dan sejak kapan kamu mulai suka drama korea. Dan sebagainya. Dan sebagainya.
Tapi tidak hari ini. Nanti.
Setelah tulisan ini usai, ku ramal senyuman annoying dan tawa iritmu akan muncul. selamat kembali kuliah.
Komentar
Posting Komentar