Tentang Is dan Bagaimana Sebuah Playlist Lagu Mengingatkan Kita Pada Ingatan yang Sudah Jauh Tersimpan Di Balik Kepala
Bagaimana sebuah ingatan hadir adalah hal yang cukup
aneh sekaligus lucu untuk dipikirkan. Ada banyak cara untuk menggali kenangan
yang tersimpan tersebut. Ambil salah satu benda yang ada di kamarmu dan biarkan
ia menceritakan sejarahnya. Atau kalau
mau, seperti yang saya lakukan sekarang, mendengarkan sebuah playlist lagu dari
album terbaru Payung Teduh di layanan musik streaming, dan biarkan lagu-lagu
tersebut membawamu ke sebuah kenangan yang lama tersimpan di folder paling jauh
di belakang kepala. Daaan ini lah ceritanya !
Saya ingat, sore itu langit sangat gelap
dan awan berwarna kelabu menyelimuti Banjarbaru. Hari itu saya bersiap untuk
menonton sebuah pertunjukan musik dengan teman-teman saya yang sudah menunggu
di sana. Dan seharusnya juga sore itu saya menemui seorang perempuan yang saya
taksir saat itu. Namun karena satu dan lain hal, pertemuan tersebut batal
terlaksana.
Di antara sedikit bintang malam itu dan gerimis yang
mengguyur, saya dan ribuan penonton lain larut bersama lagu-lagu Payung Teduh
dengan alasan masinh-masing. Setelahnya, saya mengirimkan potongan video
berdurasi singkat saat Payung Teduh menyanyikan lagu Akad ke perempuan tersebut.
Dan malam itu juga adalah pertama dan terakhir kali
saya menonton Is dengan Payung Teduh karena tidak lama kemudian, secara
tiba-tiba Is mengumumkan mundur dari band Payung Teduh.
Kebetulan, nama perempuan tersebut sama dengan nama
vokalis Payung Teduh. Is, perempuan manis asli Tanjung ini saya kenal lewat
sosmed. Is adalah paradoks. Sebuah oksimoron. Seperti kutub utara dan selatan.
Beberapa kali ia sangat mood dan sedikit kekanak-kanakan. Mungkin karena dia
seorang anak bungsu dan mantan mahasiswa termuda dikelasnya. Namu tak jarang
dia menjadi sosok yang ceria dan suka bercanda. Menjadi seorang pemalu dan
rapuh. Tapi mungkin saya cuma orang yang sok kenal Is.
Sama seperti Is yang tiba-tiba mengundurkan diri.
Perempuan ini juga, pada suatu siang atau malam, saya tidak ingat tepatnya,
mengatakan pada saya kalau dia sedang dekat dengan orang lain.
Kemarin, Is berulang tahun. Ia resmi berumur 24
tahun. Sebuah usia yang mulai memasuki fase genting. Tapi sekarang ia tak lagi
sendirian, ada seseorang disampingnya. Ia mengikat janji dengan seorang pria yang
tak akan lelah untuk memperbaiki moodnya. Seorang lelaki yang saya harap
memiliki kesabaran ekstra di saat-saat tertentu. Seorang pria yang akan selalu
ada untuk menjadi telinga dan mendengarkan keluhan Is tentang beragam hal. Dan pria
yang akan mencintai Is secara utuh dan jujur dan menjadikannya satu-satunya. Saya
kira tak ada yang lebih baik dari seorang pria yang dapat membuatmu bersyukur
setiap pagi karena merasa dicintai.
Diumur 24 tahun ini, pertanyaan kapan nikah pun akan
makin sering didengar, apalagi untuk seorang perempuan manis yang belum
menikah. Saya tahu saya tidak akan pernah bisa lebih bijak serta dewasa dari Is
dan saya tidak memiliki cukup petuah untuk orang yang sedang bertambah usia.
Namun jika boleh mememberi sebuah saran yang bisa dijadikan jawaban saat
ditanya kapan nikah, kamu tinggal jawab, “ntar kalau kurs dollar sudah turun”.
ahahaha
Saat tulisan singkat ini selesai dituliskan, Payung
Teduh baru saja selesai memainkan lagu Kita Hanya Sebentar. Sungguh kebetulan
yang membingungkan. Doa baik untukmu, Is. Ciao.
*Note : Atas rekomedasi Is saya tahu tempat jualan
pentol paling enak di kotanya, kata dia enak, saya ngga sempat makan, syudah
dimakan teman-teman saya yang kelaperan pada malam tersebut.
Komentar
Posting Komentar